ku ukir sejarah di sepanjang jalan ini,
meski lampu terotoar sudah dinyalakan
mungkin akan menjadi in memoriam,
bahwa kita pernah disini…..
setidaknya telepon umum itu dapat bercerita
pada siapapun yang berteduh di bawahnya
bahwa hujan turun lebih awal
dari jadual semestinya.
jangan salahkan aku,
kalau aku tak bisa menangis
seperti gerimis yang kerap mengais
sisa cerita tentang pergumulan preman,
semalam…
mungkin besok akan terbit matahari yang lain
atau purnama yang berbeda,
selaras janji capres yang tak pernah berhenti
mengemis permen di sepanjang trotoar,
semoga kita lupa pada sakit yang diderita…
tak ada yang bisa dilakukan disini,
kecuali menunggu roda buldoser menggilas,
sampai tuntas dan puas.
Entah, peperangan macam apa
yang membuat kita menyalahkan nasib
"selamat menjalankan ibadah puasa, mohon maaf lahir batin...."
"semoga rahmat dan ampunan Allah selalu tercurah kepada kita, amin."
Posted at 04:34 am by aleewafa
Permalink